Tuesday, 27 December 2016

TAHAPAN PENYUSUNAN BATAS-BATAS PELABUHAN

Penyusunan batas-batas DLKr dan DLKp pelabuhan merupakan suatu pekerjaan yang bersifat kompleks dan terintegrasi dikarenakan keterkaitannya dengan pedoman, standar dan ketentuan hukum serta Rencana Induk Pelabuhan yang telah ditetapkan maupun masih dalam proses penetapan. Garis besar langkah-langkah dalam metodologi penyusunan batas-batas Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) Pelabuhan diberikan dalam suatu bagan alir pdimana resumenya diberikan dalam uraian di bawah ini , yakni:
  1. Tahap persiapan;
  2.  Inventarisasi data dan analisa awal;
  3.  Survei lapangan;
  4. Tahap pemetaan;
  5. Tahap akhir, yakni menyusun rancangan batas-batas DLKr dan DLKp pelabuhan berdasarkan hasil telaah dan analisa yang telah dilakukan.

Slump Test

Nilai slump juga dipakai sebagai salah satu penentu kekuatan beton. Nilai slump yang terlalu besar menghasilkan beton yang kurang baik, nilai slump yang terlalu kecil menghasikan beton yang sukar dikerjakan. Maksud pemeriksaan nilai slump adalah untuk mengukur konsistensi campuran adukan beton secara pendekatan (tidak tepat).

Pengujian slump ini dilakukan dengan alat berbentuk kerucut terpancung, yang diameter atasnya 10 cm dan diameter bawahnya 20 cm dan tinggi 30 cm, dilengkapi dengan kuping untuk mengangkat beton segar dan tongkat pemadat diameter 16 mm sepanjang minimal 60 cm (Mulyono, 2004). Besarnya nilai slump bergantung pada:  Jenis dan banyaknya semen portland.  Jumlah air campuran.  Gradasi bahan batuan.

BETON

Beton merupakan fungsi dari bahan penyusun yang terdiri dari bahan semen sebagai bahan ikatnya, agregat kasar, agregat halus, air, dan bahan tambah lainnya. Beton didefinisikan sebagai sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi dari material pembentuknya (Nawy, 1990). Murdock dan Brook (1986) secara jelas menyebutkan bahwa beton adalah suatu bahan bangunan dan bahan konstruksi, yang sifat-sifatnya dapat ditentukan lebih dahulu dengan mengadakan perencanaan dan pengawasan yang teliti terhadap bahan-bahan yang dipilih. Bahan-bahan pilihan itu adalah ikatan keras, yang ditimbulkan oleh reaksi kimia antar semen dan air, serta agregat, dimana semen yang mengeras itu ber-adhesi dengan baik maupun kurang baik. Agregat boleh berupa kerikil, batu pecah, sisa bahan mentah tambang, agregat ringan buatan, pasir, atau bahan sejenis lainnya. Kekuatan, keawetan, dan sifat beton tergantung dari nilai perbandingan bahan dasar beton, sifat bahan dasarnya, cara pengadukan, pengerjaan, penuangan, pemadatan serta perawatan selama proses pengerasan. Untuk
membuat beton yang baik maka harus diperhitungkan cara mendapatkan adukan beton segar yang baik dan beton keras yang dihasilkan juga baik. Pencapaian kuat beton yang baik perlu diperhatikan kepadatan dan kekerasan massanya karena umumnya semakin keras dan padat massa penyusunnya makin tinggi kekuatan dan durability-nya.

Untuk memperoleh kekuatan desak beton yang tinggi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan selain faktor air semen dan kepadatan semen. Menurut Mulyono (2004) faktor-faktor tersebut diantaranya:
a. kualitas semen,
b. proporsi semen terhadap air dalam campuran,
c. kekuatan dan kebersihan agregat,
d. interaksi adhesi antara pasta semen dengan agregat, e. pencampuran yang cukup dari bahan-bahan pembentuk beton,
f. penempatan yang benar, penyelesaian dan kompaksi beton segar,
g. perawatan pada temperatur yang tidak lebih rendah dari 50ºF pada saat beton hendak mencapai kekuatan,
h. kandungan klorida tidak melebihi 0,15% dalam beton yang diekspos dan 1% bagi beton yang tidak diekspos.

Proses terjadinya beton adalah pasta semen yaitu proses hidrasi antara air dan semen (Mulyono, 2004). selanjutnya jika ditambahkan dengan agregat halus menjadi mortar dan jika ditambahkan dengan agregat kasar menjadi beton.

Bahan-Bahan Penyusun Beton

Semen Portland (Portland cement) merupakan bahan ikat yang sangat
penting dalam konstruksi beton, yang bersifat hidrolis, yaitu akan mengalami proses pengerasan jika dicampur air yang digunakan untuk mengikat bahan material menjadi satu kesatuan yang kuat. Suatu semen jika diaduk dengan semen air akan menjadi adukan pasta semen, Sedangkan jika diaduk dengan air kemudian ditambah pasir menjadi mortar semen, dan jika ditambah dengan kerikil
menjadi beton (Tjokrodimujo, 1992).

Semen Portland berfungsi sebagai pengikat bahan-bahan bangunan yang lain (batu bata, batu kali, pasir). Selain itu juga untuk mengisi rongga-rongga diantara butiran agregat.