Jakarta - Gubernur DKI Basuki T Purnama pagi ini sempat bertandang ke kompleks Istana Kepresidenan. Dari istana, Ahok langsung menuju kantor Bareskrim sementara di gedung KKP.
Ahok tiba di gedung Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Jl Medan Merdeka Timur, pukul 10.17 WIB, Senin (23/10/2016).
Setelah turun dari mobil Ahok langsung menuju ke ruang pemeriksaan menggunakan lift. Dia didampingi petugas dari Bareskrim.
"Kasus Pulau Seribu, Surat Al Maidah," kata Ahok mengenai maksud kedatanannya ke Bareskrim.
Ahok lantas naik ke lantai dua menggunakan lift. Dia tak banyak menjawab pertanyaan lain.
Ahok memang dilaporkan oleh sejumlah pihak terkait ucapannya saat berada di Kepulauan Seribu mengenai Surat Al Maidah 51. Sebelum ini sejumlah saksi sudah diperiksa oleh Bareskrim.
http://news.detik.com/berita/d-3327683/dari-istana-ahok-ke-bareskrim-untuk-diperiksa-terkait-kasus-al-maidah-51?_ga=1.132779081.612504596.1451526865
Monday, 24 October 2016
5 Aturan Money Management
Money Management adalah salah satu aspek terpenting dalam trading forex, tetapi seringkali diabaikan. Tak sedikit pula trader yang salah paham tentang aturan Money Management. Yang jadi kambing hitam saat terjadi kegagalan trading biasanya adalah strategi, dan trader pun umumnya lebih rajin mencari sistem trading "holy grail" ketimbang MM yang ampuh. Namun, hal ini bisa dipahami karena memang seluk beluk aturan Money Management bisa amat rumit. Untuk membantu Anda menata MM, berikut 5 aturan Money Management paling simpel dan populer di kalangan trader:
1. 1% Rule
Aturan Money Management dengan 1% Rule menyatakan bahwa Anda sebaiknya tidak mempertaruhkan lebih dari 1% ekuitas dalam satu posisi trading. Umpamanya, apabila Anda bertrading dengan modal $1000, maka berdasarkan 1% Rule, janganlah mengalokasikan lebih dari $10 per trading.
Sepintas terdengar simpel, tetapi penerapannya bisa cukup memusingkan. Umpamanya bila dengan modal tadi Anda bertrading dengan ukuran lot mini 0.1, berarti stop loss harus ditempatkan sekitar 10 pip dari posisi entry. Sempit sekali, bukan? Dan stop loss sesempit ini bisa dianggap sama saja dengan mengundang loss. Namun, jika Anda menggunakan lot mikro 0.01, maka stop loss bisa ditempatkan sekitar 100 pip dari posisi entry.
Dari contoh itu dapat dipahami bahwa aturan Money Management bukan cuma berkaitan dengan berapa modal yang akan dipakai, tetapi juga berapa besar lot dan dimana stop loss akan ditempatkan setiap kali buka posisi.
Ada beberapa variasi dari 1% Rule. Trader bermodal lebih besar bisa saja menerapkan aturan 1% atas keseluruhan modal. Artinya, tak peduli berapa posisi trading yang dibukanya, total dana yang dipertaruhkan tak melebihi 1% dari modal. Ada juga yang merubah persentase aturan ini dengan 2%, 5%, dan lain-lain, tergantung dengan kekuatan dana yang dimiliki dan seberapa besar risiko yang berani ditanggung.
2. Risk/Reward Ratio
Konsep MM yang umumnya dianggap paling ideal adalah menggunakan rasio risk/reward, khususnya 1:2. Aturan Money Management ini berarti bila Anda berani menanggung risiko sebesar $10, maka idealnya bisa menghasilkan $20 jika profit. Dengan rasio risk/reward 1:2, maka untuk setiap kali profit bisa mengcover satu loss sebelumnya sekaligus menangguk untung. Dengan ini, loss bisa di-cover sedikit demi sedikit dan keuntungan bisa dihimpun, asalkan Win Rate dari sistem trading yang sudah dibuat itu minimal 60%.
3. Menggunakan Leverage Besar
Aturan Money Management yang satu ini menguntungkan bagi trader bermodal recehan, tetapi sebenarnya cukup kontroversial. Pada umumnya, trader bermodal besar cenderung menggunakan leverage rendah di angka puluhan saja. Namun, trader kecil dengan modal di bawah $10,000 biasanya menggunakan leverage 1:100 atau lebih agar bisa mendapatkan profit. Untuk memenuhi kebutuhan ini, banyak broker telah menyajikan pilihan leverage bahkan hingga 1:1000.
Keuntungan bagi trader yang menggunakan leverage ini jelas. Semakin besar leverage-nya, maka makin besar lah kekuatan margin/equity dalam akun untuk menahan posisi floating, sehingga tidak mudah terkena Margin Call juga. Tapi di sisi lain, leverage yang kelewat besar mengaburkan trader dari risiko pasar yang sesungguhnya. Profit yang nampaknya besar ternyata lebih kecil, sedangkan loss kecil-kecilan lama-lama menggunung tanpa disadari.
4. Trading Pair Dengan Spread Rendah
Banyak trader memilih pair currency untuk ditradingkan secara asal-asalan, tanpa menyadari bahwa keputusan seperti itu bisa berdampak besar bagi Money Management yang dijalankan. Contohnya, bertrading pada pair eksotik bisa menimbulkan biaya spread antara 50 pips atau lebih. Bayangkan betapa sulitnya menggapai target profit dengan spread selebar itu. Solusi yang dipilih oleh banyak trader adalah dengan memilih bertrading pada pair-pair paling likuid saja, seperti pair-pair mayor, di mana spread hanya dalam hitungan satu digit atau malah di bawah 1 pip.
5. Menetapkan Target Realistis
Ini boleh jadi merupakan aturan Money Management paling simpel, tapi paling sering diabaikan trader. Karena bermimpi kaya mendadak, maka trader menargetkan return 100% dalam sebulan. Memang ada trader tertentu yang kabarnya bisa meraup profit gila-gilaan seperti itu, tetapi boleh jadi mereka lebih berpengalaman dan bertrading dengan modal lebih besar.
Keserakahan seringkali menjadi biang kerok kerugian trader, maka berhati-hatilah untuk tidak terhanyut godaan setan yang satu ini. Tetapkanlah target yang realistis, baik itu dalam trading harian, mingguan, maupun bulanan.
Outlook Mingguan Indeks Dolar, EUR/USD, GBP/USD & USD/JPY
Dolar AS makin jauh mendaki di sepanjang pekan (17-21 Oktober) ke level tertinggi 8 bulan yang didukung oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS sebelum tahun 2016 berakhir, atau di penghujung tahun ini.
Di perdagangan akhir pekan (21 Oktober) Indeks Dolar terapresiasi 0.34% dan disepanjang pekan mencetak kenaikan 0.63%, yang juga didukung oleh komentar bernada hawkish Presiden Fed New York (Rabu 19 Oktober), William Dudley, yang memberikan indikasi kemungkinan kenaikan Fed’s Rate di akhir tahun jika ekonomi tetap bertahan di jalur pertumbuhan yang membaik.
Di sisi yang berbeda, sentimen terhadap Euro menjadi rentan setelah Presiden ECB, Mario Draghi, mengatakan (Kamis 20/10) bahwa penyesuaian program stimulus untuk perbankan dapat dimulai di bulan Desember tahun ini.
Alhasil, pekan lalu Euro lebih tertekan ketimbang Sterling. Di sepanjang pekan Euro terdepresiasi atau turun 0.8% terhadap Dolar, sementara Poundsterling malah naik 0.3% versus Dolar.
Sementara itu, Yen menguat terhadap major currencies rival-rivalnya, selain karena akibat lemahnya rilis beberapa data penting China, juga karena Gubernur BoJ, Haruhiko Kuroda, mengatakan (Jumat 21 Oktober) bahwa bank sentral Jepang kemungkinan akan memundurkan waktu pencapaian target inflasi.
Meskpun Dolar sempat unggul terhadap Yen pada hari Kamis 20 Oktober (naik 0.4%), Dolar terkoreksi atau turun 0.39% terhadap Yen di sepanjang pekan.
Indeks Dolar
Didukung support 17 Oktober (98.16) dan 25 Juli (97.56), Indeks Dolar masih berpeluang bullish untuk mengejar level tertinggi bulan Januari (99.83).meskipun indikator RSI dalam sepekan terakhir justru mulai berada dalam kondisi divergensi yang meningkatkan risiko pullback/korektif dalam waktu dekat.
Penurunan di bawah High 17 Oktober atau di bawah turning-line Tenkan-sen (saat ini di level 97.84) dapat menjadi indikasi awal pergerakan korektif, tapi jika mengingat spekulasi kenaikan Fed’s Rate di bulan Desember yang terus meningkat, maka agak sulit untuk mengharapkan Indeks Dolar terkoreksi cukup jauh, ke level 50% retracement misalnya.
EUR/USD
Breakout di bawah Triangle, harga makin terpuruk setelah ECB press conference untuk berhadapan dengan support 1.0821 (Low Maret 1.0821). Pair ini masih berisiko bearish dalam jangka pendek/menengah selama bergerak di bawah 1.0910 (Low 24 Juni).
Bouncing/koreksi adalah kemungkinan yang tidak dapat diabaikan mengingat bahwa indikator RSI sudah berada di area oversold mulai dari jangka pendek hingga menengah. Namun demikian, sentimen fundamental yang terjadi belakangan ini tampaknya akan membatasi bouncing tersebut.
Konfirmasi terhadap level resisten terdekat dibutuhkan (1.0910, 1.0948 & 1.1042), dan strategi sell on rallies (mencari posisi sell ketika harga terkoreksi naik) masih lebih bijak dalam jangka menengah, sementara strategi buy/sell (scalping) tetap masih dimungkinkan dalam perdagangan intraday, tentu saja dengan memperhatikan Support/Resisten jangka pendek, dan yang terpenting adalah dengan mencermati price action yang membentuk candle pattern atau price action terhadap level-level S/R terutama setelah rilis data-data penting.
GBP/USD
Meski berada dalam tekanan, penutupan di akhir pekan yang lebih tinggi (Higher Low) ketimbang awal pekan, adalah indikasi awal fase konsolidatif yang juga ini juga didukung oleh indikator RSI. Tapi pergerakan korektif, jika memang terjadi, tampaknya masih akan dibatasi situasi fundamental yang membebani permintaan terhadap Poundsterling.
Penutupan harga di atas level turning-line Tenkan (1.2231) diharapkan dapat membuka peluang fase konsolidasi tersebut, untuk setidaknya menguji level 23.6% retracement (1.2260/75).
Strategi sell on rallies masih lebih bijak dalam jangka menengah, mengingat bahwa level psikologis 1.2000 belum benar-benar tersentuh setelah penurunan yang mencetak Low 1.2030 (7 Oktober). Sementara buy/sell atau scalping jangka pendek/intraday tetap masih dimungkinkan, tentu saja dengan memperhatikan price action terhadap level-level S/R terdekatnya.
Sebagai catatan, Morgan Stanley menargetkan 1.21 di akhir tahun dan 1.15 di kwartal pertama tahun 2017 dalam portofolio perdagangan jangka menengah/panjang. Analis Goldman Sachs kurang lebih berpandangan sama, bahwa GBP/USD masih berisiko bearish hingga 7% dalam jangka menengah/panjang.
Saya sendiri dalam beberapa pekan belakangan ini lebih suka menunggu respon market terhadap data-data Inggris sebelum memutuskan mengambil posisi entri short-term atau entri jangka pendek terhadap GBP/USD dan EUR/GBP, sambil menyimak berita-berita atau artikel terkini yang berkaitan dengan "hard brexit".
USD/JPY
Sejauh ini dalam 3 hari terakhir, harga masih berkutat mondar-mandir di atas/bawah Tenkan-sen 103.89. Tapi penutupan harga di atas support dinamis flat Senkou-span 103.50 tetap menjaga kemungkinan memperpanjang bullish jangka menengah setelah USD/JPY keluar dari lintasan Descending Triangle.
Menyimak berbagai data ekonomi dan berita fundamental terkait dengan kebijakan BOJ dan pemerintah Jepang sebaiknya tetap dilakukan, dengan ekspektasi yang makin meningkat terhadap kemungkinan BOJ/pemerintah Jepang melakukan tindakan tambahan untuk memicu pertumbuhan inflasi Jepang.
Data ekonomi dari China juga layak diperhatikan karena dapat memicu sentimen jangka pendek terhadap Yen. Data China yang lemah misalnya, malah berisiko memicu permintaan terhadap Yen yang mengakibatkan Yen menguat, karena China adalah negara dengan ekonomi yang terbesar kedua di dunia.
Sementara secara teknikal, dari sekumpulan level support statis dan dinamis terdekat, 103.00/102.80 adalah area support yang tetap menjaga risiko bullish dalam jangka menengah. Strategi buy dips (mencari posisi buy sedekat mungkin dengan area support 103.00/102.80) sementara ini masih lebih bijak dalam perdagangan jangka menengah.
Posisi buy/sell dalam perdagangan intraday/jangka pendek masih dimungkinkan, dengan memperhatikan aksi harga atau price action terhadap level 104.62, 104.46, 104.18, 103.89, 103.50, 103.31, 103.00 dan 102.80.
Subscribe to:
Posts (Atom)